Notification

×

Iklan ok

Mengelola Masalah dengan Elegan: Kunci Profesionalisme di Lingkungan Kerja

Sabtu, 01 Februari 2025 | 09.16 WIB Last Updated 2025-02-01T05:08:13Z






GEMARNEWS.COM - Dalam panggung kehidupan profesional, setiap individu berperan dalam skenario yang tak selalu terang 
benderang. Ada saatnya kita harus melangkah maju dan bersuara, namun ada pula waktu di mana diam menjadi 
kebijaksanaan tertinggi. 


Di antara hiruk-pikuk kantor, ruang rapat yang penuh perdebatan, dan meja kerja yang 
menyimpan rahasia kelelahan, kita sering bertanya: Haruskah aku berbicara? Ataukah lebih baik aku 
menyimpannya sendiri? 
Kenyataan pahit dunia kerja mengajarkan bahwa tidak semua keluhan akan disambut dengan simpati. 


Sebagian orang tak peduli, sementara sebagian lainnya mungkin justru menikmati kesulitan kita. Namun, adakah 
cara yang lebih anggun untuk mengelola masalah tanpa kehilangan harga diri dan profesionalisme? 
Dalam kacamata manajemen sumber daya manusia, bagaimana kita menyampaikan permasalahan 
mencerminkan lebih dari sekadar keberanian. 

Itu adalah cermin dari kedewasaan emosional, kecerdasan dalam 
berstrategi, dan pemahaman yang mendalam tentang dinamika organisasi. 

Menimbang Antara Diam dan Berbicara 

Teori Perilaku Sosial (Social Behavior Theory) mengajarkan bahwa manusia bertindak berdasarkan insentif 
sosial. Dalam organisasi, seseorang yang terlalu sering mengeluhkan masalahnya dapat dipandang sebagai pribadi 
yang rapuh, kurang adaptif, atau bahkan tidak kompeten. Dunia kerja lebih menghargai mereka yang mampu 
mengatasi kendala dibandingkan mereka yang hanya mengeluh tanpa tindakan nyata. 
Di sisi lain, Teori Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence Theory) yang diperkenalkan oleh Daniel 
Goleman menekankan bahwa individu yang memiliki kecerdasan emosional tinggi tahu kapan harus berbicara dan 
kepada siapa mereka harus berbicara. Mereka memahami bahwa kata-kata adalah pedang bermata dua—dapat 
membangun jembatan, tetapi juga bisa merobohkannya. 

Oleh sebab itu, mereka berbicara bukan untuk mencari 
belas kasihan, tetapi untuk menyampaikan gagasan yang membawa solusi. 

Saat yang Tepat untuk Bersuara dan Berdiam Diri 

Dalam lingkungan kerja, memilih kapan harus berbicara dan kapan harus diam adalah seni yang 
memerlukan intuisi, pengalaman, dan kecermatan. 

Kapan Kita Harus Berbicara? 
 Ketika masalah yang dihadapi berpotensi menghambat produktivitas tim atau organisasi. 
 Jika terjadi pelanggaran etika atau hukum, seperti ketidakadilan, diskriminasi, atau korupsi. 
 Jika lingkungan kerja terbuka terhadap kritik dan diskusi konstruktif.     
Kapan Sebaiknya Kita Diam? 
 Jika keluhan hanya didasarkan pada emosi sesaat tanpa solusi yang jelas. 
 Jika berbicara hanya akan menambah konflik tanpa mengubah keadaan. 
 Jika lingkungan kerja tidak mendukung transparansi dan perubahan.


Seni Menyampaikan Masalah dengan Elegan 


Menyuarakan permasalahan bukan hanya soal keberanian, tetapi juga soal strategi. Berikut adalah beberapa 
langkah untuk menyampaikannya dengan cara yang lebih elegan dan berkelas: 

1. Pilih Pendengar yang Tepat Tidak semua orang perlu mengetahui kesulitan kita. Mengeluh kepada 
mereka yang tak memiliki solusi hanya akan memperbesar lingkaran drama. Sampaikan kepada seseorang 
yang memiliki otoritas dan kepedulian untuk membantu, seperti atasan, mentor, atau bagian HRD. 

2. Datang dengan Solusi, Bukan Sekadar Keluhan Dalam dunia profesional, mereka yang membawa solusi 
akan lebih dihargai daripada mereka yang hanya membawa masalah. Jika ada kesalahan dalam sistem 
kerja, sertakan saran perbaikannya. Jika ada kendala dalam komunikasi tim, tawarkan cara untuk 
meningkatkan koordinasi. 

3. Jaga Emosi, Kelola Ekspektasi Tidak semua keluhan akan ditanggapi dengan baik, dan itu adalah realitas 
yang harus diterima. Oleh karena itu, sampaikan permasalahan dengan ketenangan dan profesionalisme. 
Biarkan kata-kata kita membawa kejelasan, bukan kemarahan. 


Sebuah Kisah : Keberanian Berbuah Solusi 

Di sebuah perusahaan yang sedang berkembang, ada seorang pemimpin tim sebut saja Mr.X.  Setiap hari, 
ia menyaksikan rekan-rekannya bekerja melampaui batas, tenggelam dalam tenggat waktu yang ketat dan 
tekanan yang terus menghimpit. 

Suasana kerja semakin suram, kelelahan menjalar di wajah-wajah yang dulu 
penuh semangat. Mr.X tahu bahwa jika kondisi ini dibiarkan, timnya akan kehilangan energi, kreativitas, dan 
mungkin bahkan kepercayaan terhadap organisasi. 

Namun, Mr.X  juga paham bahwa mengeluh tanpa solusi hanya akan membuatnya terlihat lemah. Maka, 
ia memilih jalan yang lebih elegan. Ia mulai mengumpulkan data—jumlah jam lembur yang semakin meningkat, 
produktivitas yang mulai menurun, serta dampak psikologis yang dirasakan timnya. Ia merancang sebuah 
presentasi yang bukan hanya menyuarakan permasalahan, tetapi juga menawarkan solusi yang konkret. 


Ketika tiba saatnya berbicara di hadapan manajemen, Mr.X tidak menunjukkan ekspresi frustrasi. Ia 
berbicara dengan tenang, menyampaikan fakta, dan mengusulkan perubahan dalam sistem kerja. Ia tidak 
menyalahkan, tetapi mengajak berdiskusi. Ia tidak hanya berbicara tentang masalah, tetapi juga membawa peta 
jalan menuju perbaikan. 


Hasilnya? Manajemen tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mengapresiasi. Beberapa usulannya 
diterapkan, alur kerja diperbaiki, dan kesejahteraan tim meningkat. Mr.X tidak hanya mempertahankan 
martabatnya, tetapi juga membuktikan bahwa suara yang disampaikan dengan elegan memiliki kekuatan untuk 
mengubah keadaan. 


Dari kisah Mr.X , kita belajar bahwa mengelola masalah di dunia kerja bukan hanya tentang berbicara 
atau diam, tetapi tentang bagaimana kita menyampaikan permasalahan dengan kebijaksanaan, strategi, dan 
solusi yang membangun. 


Kesimpulan 

Dalam dunia profesional, seni mengelola masalah terletak pada keseimbangan antara berbicara dan 
diam. Kita tidak harus selalu vokal, tetapi kita juga tidak boleh sepenuhnya membisu. Memilih waktu yang tepat, 
berbicara dengan cara yang cerdas, serta membawa solusi yang konkret adalah langkah-langkah yang akan 
menjaga kredibilitas dan profesionalisme kita. 


Ketika kita menyampaikan sesuatu, biarkan itu membawa nilai, bukan sekadar keluhan. 

Ketika kita memilih diam, biarkan itu menjadi tanda kebijaksanaan, bukan ketakutan. Dengan begitu, kita tidak hanya 
menjaga martabat sebagai seorang profesional, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, 
produktif, dan harmonis. 

Referensi : 
1. Goleman, D. (2020). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bloomsbury. Dkk




Mengelola Masalah dengan Elegan : Kunci Profesionalisme di Lingkungan Kerja 
Oleh : Dr.Febyolla Presilawati, SE.MM 
Dosen Tetap Magister Manajemen 
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Aceh 
Email : febyollaraviq.fr@gmail.com. 



×
Berita Terbaru Update